Sabtu, 16 Juni 2012

Perkembangan Fantasi Anak

oleh:
M. Miftah Arif          0901290599
M. Yudie                    0901290603
Teguh Setiyono         0901290636
Yanawati                    0901290640

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Perkembangan fantasi
                                    Perkembangan kejiwaan pada masa anak-anak, terkadang disebut dengan masa anak kecil atau juga masa menjelang sekolah, sebab masa ini saat-saat anak mempersiapkan diri untuk bersekolah. Demikian pula masa ini ada yang menyebut dengan masa estetis, dikarenakan anak mulai mengenal dunia sekitarnya terasa serba indah. Pada makalah ini kami menjelaskan perkembangan fantasi pada anak.
            Dalam psikologi, Perkembangam adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada diri manusia secara terus menerus kearah yang lebih maju yang nampak lebih banyak bersifat kualitatif, karena ia berkenaan dengan aspek kejiwaan. Sedangkan fantasi adalah daya jiwa anak untuk menciptakan tanggapan-tanggapan baru atas bantuan tanggapan-tanggapan yang telah ada (lama).

            Menurut ilmu aliran ilmu jiwa modern memberikan pengertian, bahwa fantasi adalah suatu daya jiwa untuk menciptakan sesuatu yang baru. Dalam fantasi ini manusia dapat menciptakan sesuatu yang belum ada, sehingga merupakan suatu kreasi.

            Pada masa ini anak senang dan kaya dengan fantasi. Anak senang dan kaya akan imajinatif. Anak tidak hanya senang terhadap cerita-cerita hayal yang disampaikan oleh orang lain, tetapi ia sendiri juga senang bercerita kepada orang lain. Kadang-kadang ia juga dapat bercerita melebihi pengalaman aktualnya atau kadang-kadang bertanya tentang hal-hal yang gaib sekalipun.

            Pada tahap ini anak mulai menggunakan buku, mulai berpikir bahwa buku ini penting, melihat atau membolak-balikkan dan kadang-kadang anak membawa buku kesukaannya. Pada tahap pertama, orang tua atau guru dapat memberikan atau menunjukkan model/contoh tentang perlunya membaca, membacakan sesuatu pada anak, membicarakan buku pada anak.

                                    Banyak ragam dan jenis permainan yang berkembang dari waktu ke waktu. Mulai dari permainan tradisional hingga permainan berteknologi modern. Tentu saja semua itu memerlukan kontrol dan seleksi dari orang tua agar tidak membahayakan bagi perkembangan anak. Permainan fantasi, permainan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh anak dalam dunianya. Kita mungkin sering melihat dan mendengar anak kecil berbicara sendiri ketika bermain boneka. Sebenarnya ia memiliki fantasi dan imajinasi sendiri mengenai tokoh yang dimainkannya melalui boneka itu. Permainan seperti ini baik untuk kecerdasan otak kanan karena dengan sendirinya anak belajar berperan dengan berbagai karakter yang diciptakannya, merasakan sisi emosional tokoh-tokoh yang ada dalam imajinasinya, serta lambat laun akan memahami nilai baik dan buruk sebuah sikap dan sifat. Namun, sebaiknya anak diberikan ruang dan waktu untuk bermain secara berimbang antara permainan aktif, pasif dan fantasi agar kecerdasan otaknya juga seimbang

B.     Beberapa jenis Fantasi

            Fantasi dibedakan menjadi 3 jenis, yakni :
a)      Fantasi terpimpin (tuntunan)
      yaitu timbul fantasi dikarenakan adanya kesan setelah menanggapi hasil ciptaan orang lain, atau fantasi yang timbul karena sesuatu perangsang dari luar.
b)      Fantasi mencipta
       yaitu timbulnya fantasi seseorang yang muncul karena kekuatan ( potensi ) yang ada pada dirinya secara murni tanpa adanya tuntutan dari luar. Atau fantasi yang benar-benar menghasilkan sesuatu yang baru.
c)      Fantasi melaksanakan
       yaitu fantasi yang berada antara fantasi menciptakan dan fantasi terpimpin. Misalnya pada saat orang menyanyikan lagu, sesuai dengan isi dan irama lagu.

                        Fantasi yang ada pada diri seseorang itu bersifat :
1.      Leluasa, bebas tidak terikat, atau liar
2.      Spontan terkadang tanpa disadari
3.      Mudah sekali berubah
4.      Bersifat menciptakan untuk sesuatu yang baru

C.     Beberapa Masa Fantasi

1.      Masa dongeng
                                Masa dongeng ini terjadi sejak anak berumur 4 sampai 8 tahun. Masa ini bertepatan waktunya dengan perkembangan anak kearah kenyataan. Anak suka sekali mendengarkan cerita kehidupan seperti anak yang lucu, anak yang kotor, anak yang jarang mandi, dan sebagainya. Masih pada masa ini juga, anak suka kepada cerita-cerita/dongeng-dongeng seperti raja, pemburu yang kejam, raksasa, timun emas, bawang merah bawang putih, malin kundang, lara jonggrang dan lain-lainnya.

2.      Masa robinson crusoe
                        Masa ini terjadi sejak anak berumur 8 sampai dengan 12 tahun. Dalam masa ini anak mengalami realisme naif (diterima tanpa kritik) kemudian anak memasuki masa realisme krisis, yaitu masa anak tidak menyukai lagi dogeng yang fantastis, dongeng yang tidak masuk akal. Unsur-unsur yang hebat dan ajaib dalam dongeng lambat laun berkurang dan unsur kritik mulai muncul. Pada masa ini anak menghendaki peristiwa riil yang betul-betul terjadi. Karena itu anak lalu menyenangi cerita-cerita yang masuk akal seperti cerita perjalanan, cerita roman, dan sebagainya.

3.      Masa pahlawan
        Masa ini terjadi sejak anak berumur 12 sampai 15 tahun. Anak suka membaca buku-buku perjuangan, karya orang kenamaan yang pernah terjadi.

D.    Beberapa kelebihan/guna fantasi
Ada beberapa kelebihan/guna fantasi adalah :
1.      Fantasi dapat digunakan sebagai hiburan
2.      Fantasi dapat memudahkan anak dalam menerima pelajaran
3.      Fantasi dapat membentuk budi pekerti anak. Bila ia membaca atau melihat film yang baik-baik, ia terdorong untuk meniru dan berbuat seperti yang dibaca atau yang dilihatnya itu.
4.      Dengan fantasi para seniman dapat menciptakan sesuatu yang baru yang dapat kita nikmati.
5.      Dapat merintangi dan mengurangi kesedihan kita.

E.     Beberapa kekurangan/dampak fantasi
      Selain memiliki nilai-nilai kelebihan, dari sisi lain fantasi itu menimbulkan dampak yang tidak baik/dampak buruk terhadap perkembangan anak, yaitu :
1.        Anak sering tenggelan dalam dunia fantasinya. Tampaknya ia suka melamun.
2.        Anak takut menghadapi kenyataan. Ia menjadi orang yang pemalu atau menjadi seorang pembual dikalangan teman-temannya.
3.        Menimbulkan fantasi yang jauh dan liar, terutama akibat fantasi tanpa pimpinan.

F.      Macam-macam tes fantasi :
1)      Tes Binet               : Melengkapi gambar
2)      Tes Masselon         : Tes tiga kata
3)       Tes Hindustri        : Tes yang digunakan 2 bahasa yang sudah dan belum                                    dikenal anak, dan artinya bisa dijodohkan dalam   baris                                       kanan dan kiri.
4)       Tes Obsurditi        : Tes kemustahilan, yaitu anak disuruh mencari cerita                                       kemustahilan dalam isi cerita itu.
5)       Tes Rorchach        : Tes menelaah bentuk ganbar.
6)       Tes Decoupage     : Tes yang dilipat lalu digantung, kemudian gambar apa                                   yang terjadi dalam guntingan.

              
G.    Nilai fantasi dalam pendidikan

1.      Dengan fantasi dapat digunakan dalam mata pelajaran di sekolah
2.      Dengan memahami fantasi kita tidak akan lekas memberikan hukuman kepada anak didik
3.      Dapat membentuk atau mempengaruhi watak anak didik
4.      Dengan alat-alat pelajaran/pengajaran untuk dapat mengembangkan fantasi anak didiksecara luas dan leluasa.
Dalam menanggapi masalah perkembangan fantasi ada 2 psikolog yang kontradiksi :

v  Dr. Montessori
            Beliau berpendapat bahwa fantasi anak dalam perkembangannya harus dibatasi tidak boleh dibebaskan seleluasa mungkin, sebab jika fantasi tidak dibatasi dapat menghambat kemandirian anak-anak, jadi tidak realistis. Karena fantasinya, seorang anak dapat terlena oleh fantasinya.
                          
v  Frobel
            Beliau berpendapat bahwa fantasi anak harus dibebaskan sebebas-bebasnya, tidak usah dibatasi perkembangannya, sebab dengan keleluasaan berfantasi seorang anak akan memperoleh kepuasan tersendiri. Dan dengan adanya kepuasan jiwa anak itu, maka ia akan tumbuh dan berkembang jiwanya secara sehat, dan penuh kreativitas.

   Dengan melihat 2 pendapat yang berbeda itu, maka kiranya dapat diambil jalan yang paling moderat yakni terhadap fantasi anak, sebaiknya diberikan kesempatan atau dilatih untuk dikembangkan. Dan agar anak tidak terlalu terlena pada dunia khayal yang berlebih-lebihan, maka ada baiknya juga jika dalam latihan pengembangan fantasi agak dibatasi tetapi tidak terlalu ketat. Sehingga perkembangan fantasi anak akan tetap bebas leluasa tetapi terkendali atau terarah.

   Semua orang tua pasti menyayangi anak-anaknya, bersedia melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, bentuk kasih sayang yang kurang bijaksana seringkali membelenggu kebebasan jiwa anak. Anak adalah jiwa yang bernyawa, hati yang berperasaan dan jasad yang berpemikiran. Biarkan anak bahagia dengan dunianya, karena kebahagiaan di masa kecil turut menentukan kualitas hidupnya di masa depan

0 komentar:

Poskan Komentar